Jumat, 28 Oktober 2016

Cerita Sex Ku Kenal Seks Bebas Dari Pacarku Max

Cerita Sex,Cerita Dewasa,Cerita Panas,Cerita Bokep,Cerita Ngentot,Cerita Mesum,Cerita Hot,Cerita Tante,Cerita Sedarah,Cerita Abg,Cerita Pesta Seks,Cerita Perkosaan.

Cerita Seks - Aku sebut saja Sidney, saat ini umurku 23 tahun. Ini adalah kisah sex-ku bersama pacarku, sebut saja Max yg berusia 29 tahun. Dgn Max aku banyak mendapatkan pengalaman sex yg sangat berharga. Dgn Max juga aku jadi mengenal sex bebas.

Cerita Sex Ku Kenal Seks Bebas Dari Pacarku Max


Cerita Sex Panas

Pada mulanya aku adalah salah satu gadis yg berprinsip tdk akan melakukan hubungan sex sampai nanti setelah menikah.

Sejak kami pertama kenal dan kemudian menjalin cinta, Max sudah sangat tau tentang prinsipku yg satu itu. Waktu berlalu, tahun 2011 dan tak terasa 2 tahun sudah hubunganku berjalan dan sampai sejauh itu aku masih bisa konsekwen dgn prinsipku.

 Max sering menyatakan kekagumannya kepadaku sebagai wanita yg sangat bisa menjaga kesucian. Padalah kami sering kali menghabiskan malam bersama-sama. Kadang aku menginap dirumahnya (dia tinggal sendiri, orang tuanya ada di kota lain). Ini kami lakukan karena kami sangat jarang berjumpa.

Dan disaat itu, kami tdk pernah melakukan sesuatu yg diluar batas. Hanya petting. Perlu kuberitahu Max punya nafsu sex yg lumayan besar. Kalau sudah sangat bergairah, dia agak sulit mengontrol diri. Dan kalau sudah begitu aku lebih suka mengambil jalan aman dgn cara ‘menenangkan’ dia. Max paling suka dgn oral sex.

 Untuk meredakan nafsunya aku sering melakukan oral sex dgn menjilat dan mehisap-hisap k0ntolnya sampai akhirnya dia mencapai kepuasan.

Sementara aku juga menikmati ‘kepuasan’ku sendiri dgn permainan lidah dan jari Max yg sangat lincah pada memekku sampai aku mencapai orgasme. Mungkin karena perasaan cinta dan percaya yg sudah demikian lekat kami merasa sekarangpun kami sudah menjadi suami istri. Dlm bercinta semakin hari Max semakin ‘berani’ dan kadang tdk mengindahkan lagi peringatanku untuk tdk ‘terlalu’ dlm melakukan cumbuan.

Lama-kelamaan aku tdk dapat menahan lagi ‘gempuran-gempuran’nya setiap kali kami bercinta. Yg selama ini kami lakukan biasanya cukup petting, namun belakangan ini Max suka sekali mengarahkan k0ntolnya ke memekku. Sebagai manusia biasa, tentu saja aku lama-lama merasa penasaran dgn kenikmatan yg sering disebut orang sebagai surga dunia itu.

 Antara prinsip yg coba kupertahankan dgn rasa cinta bercampur penasaran. Pada akhirnya aku tak tahan dgn desakan-desakan naluriku sendiri sebagai wanita normal.
Malam itu seperti biasa Max menelefonku dan mengajak aku untuk menginap dirumahnya.


 Begitu sampai rumahnya Max sudah merapikan kamarnya dan dia juga telah menyiapkan semua peralatan yg kubutuhkan untuk mandi. Selesai mandi tubuhku yg masih berbalut handuk dipeluknya. Max memang selalu hangat dlm bercinta. Diciumnya tengkukku. Dia memang sangat tau bagian-bagian paling sensitif dari tubuhku.

Aku mengelak sambil mendorongnya pelan.
Kukatakan aku ingin memakai baju dulu karena dingin. Max sengaja memilihkan baju tidur yg dibelikannya untukku. Sebelumnya aku sudah tau dia ingin making love malam ini. Begitu aku selesai aku membaringkan tubuhku dikasur. Diapun segera menyusul dan membaringkan tubuhnya disampingku. Sambil sesekali mencium kening dan pipiku Max dan aku ngobrol-ngobrol ringan dulu. Tangannya sesekali mambelai rambutku.

Matanya memandangku begitu dlm, penuh kecintaan…aku merasa beruntung sekali memiliki kekasih yg orang bilang sangat ganteng dan setia. Pandangan mata kami bertaut dan saling mencari makna masing-masing di dalamnya. Bibir kamipun saling bertaut. Max mengulum bibirku dgn berapi-api, seolah ingin dilumatnya habis.

Napasku sedikit sesak karena ciumannya yg bertubi-tubi. Namun akupun tak mau kalah, kubalas juga ciumannya dgn permainan lidah yg tak kalah dahsyat. Kupeluk tubuh lelaki yg sangat kucinta itu, hidungku segera saja mencium aroma sexy tubuhnya yg sangat kusukai. Sementara tangan Max mulai beraksi. Dgn gerakan yg lembut, telunjuknya berputar-putar mengelilingi buah dadaku yg ditutupi gaun tidurku yg tanpa bra. Dari balik gaun tidurku dapat kurasakan sentuhan tangannya yg mendatangkan rasa nikmat.

Telunjuknya mengusap-usap putting susuku yg telah mengeras karena rangsangannya. Demi melihat putting susuku menonjol tegak, dgn gemas Max meremas-remas buah dadaku. Tangannya yg kokoh kini telah menguasai tumpukan daging kenyal yg sangat disukainya. Matanya kadang terpejam merasakan kenikmatan yg dia dapat dari remasan tangannya di buah dadaku.
“Ooohh…Sid….hmm…..” bisiknya.

Detik berikutnya tangannya beralih dari dadaku dan berusaha untuk melepaskan baju tidur yg melilit tubuhku. Dgn tdk sabar dilepasnya baju itu dan dilemparnya entah kemana. Sementara aku sudah sangat terangsang dari tadi. Dapat kurasakan bagian selangkanganku menjadi sedikit tegang dan basah. Setelah puas menciumi bibirku kini bibirnya bergerak pelan kearah bawah melewati leherku…dikecupnya lembut, dari situ bibir Max bergerak menjilati kupingku.

Aku menggelinjang nikmat mendapat perlakuan seperti itu. Bibirnya terus menelusur kebawah dan kini telah sampai diantara belahan buah dadaku yg Max bilang sangat sexy karena ukurannya dan kekenyalannya. Lidahnya bermain-main dan menyapu-nyapu diantara gundukan bukit kenyalku yg berukuran 36C.

Lidahnya yg hanya berputar-putar disekitar buah dada dan putting susuku membuatku gemas. Puttingku sudah tegak mengeras menanti kehangatan bibirnya namun tampaknya Max sengaja mempermainkanku dgn tdk menyentuh bagian paling sensitif dari dadaku itu. Setelah beberapas lama aku tdk tahan dan akhirnya merengek manja.

“Ooohh…Max…jangan main-main doongg….” desahku.
Max hanya tersenyum melihat wajahku yg sudah sangat gemas dan tdk sabar. Detik berikutnya saat yg kunanti akhirnya tiba juga. Max menjilatkan lidahnya yg hangat di puting susuku.
“Ooohh…sayaanggg…” desisku lega.

Tdk sampai disitu Max pun mulai menghisapinya bagaikan seorang bayi yg sangat kehausan. Putingku disedot-sedot, dihisap dan dijilatinya. Aku semakin mendesah dan merintih-rintih nikmat!
Sepertinya Max semakin terangsang dgn suara eranganku. Sementara itu tangan kokoh Max mulai menelusuri pinggang dan perutku, terus bergerak kebawah. Ketika tangannya menyentuh bagian selangkanganku, Max mengusap-usap rambut-rambut halus yg tumbuh disana. Aku menggeliat gelisah dan mendesah-desah.

Kegelisahanku seolah terbaca oleh Max. Maka tanpa menunggu lagi tangannya dgn lincah membuka CD minim-ku yg berwarna hitam turun dan terus menuju memekku yg sudah sangat basah itu. Diusap-usapnya lembut. Kemudian jari tengahnya mulai digeser-geserkan kebelahan memekku. Aku mengerang penuh kenikmatan. Oohh…betapa aku merasakan nikmat yg membuatku semakin menjulang tinggi. Max mengelus-elus memekku dan telunjuknya kini berputar-putar disekitas lubang memekku. Telunjuknya yg kini basah diusapkannya ke clitku.

Dan dia pun mulai mengusap dan membasahi clitku dgn cairan memekku sendiri. Sementara akupun tdk mau tinggal diam. Tanganku mencoba menggapai-gapai k0ntolnya dan ketika k0ntol itu telah berada dlm genggaman tanganku, dapat kurasakan ooohh…alangkah besarnya k0ntol kekasihku. K0ntol itu sudah sangat tegang dan keras sekali, aku rasakan k0ntol itu berdenyut-denyut hangat.
Max mendesah pelan ketika kukocok-kocok lembut k0ntolnya. Sementara itu tangannya semakin ganas dimemekku. Jemarinya dgn lembut mengusap dan sesekali dicubit-cubitnya clitku yg sudah sangat tegang. Aku mendesah…mengerang….dan merintih nikmat…dlm pada itu naluriku seolah menuntut agar Max melakukan sesuatu yg lebih dan lebih lagi! Tiba-tiba tubuh Max melorot kearah bawah, menuju selangkanganku.

Aku tau apa yg ingin dilakukannya dan aku sudah tak sabar untuk menikmati rasa itu. Benar saja. Aku merasakan hidung Max menyentuh-nyentuh rambut-rambut halusku. Belum kuresapi betul kenikmatan itu, kini lidah Max sudah mulai beraksi dgn menjilati semua bagian memekku. Dihisap dan sesekali digigitnya clitku. Aku hanya bisa pasrah sambil menikmati permainan lidahnya yg luar biasa. Tak puas dgn itu, jarinya membuka lebar bibir memekku agar lebih lebar dan terlihat jelas.
Untuk sesaat dia tdk melakukan aktivitas apapun. Matanya menatap kagum ke arah memekku.

 Dia berdecak kagum. “Hmm…Sid, memekmu indah sekali.” bisiknya berulang-ulang. Tiba-tiba Max mengambil senter kecil dan menyorotkan cahayanya ke arah lubang memekku. Aku tanya apa yg dia ingin lakukan dgn senter itu. Max bilang ia ingin melihat lubang memekku yg sesungguhnya.
Ini adalah pengalaman sex yg pertama bagi kami. Bukan cuma aku, Max-pun sebelum ini belum pernah melihat bentuk memek yg sesungguhnya, hanya melalui film blue saja. Maka ketika yg dihadapinya kini adalah memek yg sebenarnya dia merasa takjub…inilah lubang kenikmatan itu.
Sambil masih terus menyorotkan senter itu ke memekku Max berkata,

” Sid…lubang tempat masuk k0ntol itu ternyata kecil sekali…sangat sempit. Sepertinya nggak mungkin mampu dilewati k0ntolku ygs sebesar ini” bisiknya bodoh.
Aku hanya tersenyum dan berkata,

” Itu namanya aku masih asli, sayang…Nanti kalau sudah masuk, dia akan membesar mengikuti besar k0ntol kamu..” jawabku sok tau.

“Sid…milikmu indah sekali, kau harus melihat sekali-sekali bagaimana bentuk memekmu didalam…kulitnya lembut sekali dan berwarna kemerahan yg segar.

Ahhh…aku sudah tdk sabar ingin menikmatinya dlm arti yg sesungguhnya.” Bisik Max.
“Maksudmu apa…?” bisikku

“Bolehkan kalau aku…mm….aku ingin kita melakukan sex yg sebenarnya…bukan cuma petting seperti yg kita lakukan selama ini,..” katanya ragu…

Aku terdiam sejenak. Antara prinsip yg kupertahankan selama ini dgn naluriku yg sudah hampir meledak menuntut suatu kenikmatan bercampur dibenakku. Terus terang, akupun saat ini ingin sesuatu yg ‘lebih’ dari apa yg pernah kami lakukan sebelumnya.

Aku tak tau apakah Max mengerti apa yg tengah kupikirkan, tetapi tanpa menunggu jawabanku Max kembali melakukan aksinya lagi. Kini dgn nafsu yg lebih bergelora ia menjilati seluruh permukaan memekku. Lidahnya bermain-main di clitku. Aku bagaikan cacing kepanasan menggeliat kesana kesini, kakiku bergetar menahankan kenikmatan yg kurasakan diseputar memekku.

Desahanku yg semakin keras sepertinya membuat semangat Max makin tinggi. Tiba-tiba Max merubah posisinya terbalik diatas tubuhku. Kini k0ntolnya tepat berhadapan dgn wajahku. Dgn sigap akupun menangkap k0ntolnya yg sudah sangat tegang itu untuk kemudian kuhisap dan kujilati. Dgn gerakan maju mundur mulutku terus berkecipak mengulum k0ntolnya.

Sementara tanganku yg lain meremas-remas buah pelirnya yg menggantung.
Mendapat rangsangan demikian, Max semakin mengganas dibagian memekku. Dijilatinya terus clitku dan dihisap-hisapnya bibir memekku berrgantian. Oooohh…nikmat sekali. Kenikmatan yg sudah sampai keubun-ubun membuat kami berdua bagai dua orang yg kesetanan. Hingga pada akhirnya Max kembali pada posisi semula. Tubuhnya menindih tubuhku dari atas setelah sebelumnya dibukanya lebar-lebar dua kakiku. Mulutnya kembali menciumi bibir dan buah dadaku bergantian. Kemudian dia bangkit, Max kini berdiri dgn dua lututnya persis diantara dua kakiku yg telah dibukanya lebar. Tangannya menuntun k0ntolnya kearah memekku.

Aku mendesah…lirih…Aku tau apa yg ingin dilakukannya. Aku sudah tdk peduli lagi. Dlm hatiku sudah bulat untuk mengawininya dan yg penting diatas semua itu, aku percaya Max dgn sepenuh hatiku. Aku siap untuk kehilangan virginitasku malam ini. K0ntolnya kini telah menyentuh lubang memekku, Max berusaha memasukkan kepala k0ntolnya yg besar ke lubang kecil itu. Ditekannya sedikit..pelan…dipandangnya wajahku dan bertanya apakah aku merasa sakit. Aku hanya menggeleng lemah. Max meneruskan usahanya memasukan k0ntolnya ke lubangku.

Kali ini ditekannya sedikit keras. Aku menahan napasku, rasanya sebagian kepala k0ntolnsya telah masuk, dapat kurasakan dari lubangku yg terasa agak meregang. Sejauh ini belum terasa sakit. Merasa telah memasukkan sebagian kepala k0ntolnya ke lubangku, Max melepas tangannya yg tadi menuntun kepala itu untuk masuk kelubangku. Dia mulai menggoyangkan pantatnya pelan, menekan kebawah, ke memekku. Namun kepala itu lepas. Beberapa kali Max melakukan itu, namun pada saat tangannya dilepas, k0ntol itupun ikut lepas.

Keringatnya mulai muncul, tubuhnya basah. Aku tau, dia berusaha melakukannya dgn lembut sekali karena takut aku merasa kesakitan. Max memang sangat pengertian. Aaaah…. desahnya pelan.
“Sulit sekali, sayang…masih sempit” bisiknya.

Aku menyeka keringatnya disekitar wajah dan keningnya. Dikecupnya bibirku. “Aku cinta kamu, sayang…” bisiknya lagi mesra. Aku memejamkan mataku merasakan kebahagiaan ini. Sementara tanganku kini mengusap-usap putting susu Max.

Max sangat sensitif dibagian putting susunya, terutama yg sebelah kirinya dan aku tau betul itu. Benar saja, Max langsung mendesah-desah.
“Ooohh….nikmatnya, sayangg..” desisnya. Aku semakin bersemangat. Jari-jariku menari-nari diputing susunya. Max menggelengkan kepalanya dgn mata terpejam. Kini tangannya mencoba lagi memasukkan k0ntolnya kelubangku yg basah.

Sebagian kepalanya telah masuk kini, Max menekannya sedikit keras. Kurasakan lubangku kembali meregang. Kali ini Max tdk melepaskan tangannya. Dibimbingnya terus k0ntol itu sampai masuk ke memekku. Bless…kurasakan sesuatu menyodok kedalam. Kupikir semua k0ntolnya telah masuk, ternyata yg masuk baru kepalanya saja. Seluruh kepala k0ntol Max kini telah masuk kelubangku. Ada sedikit perih dan sesuatu yg mengganjal dibulangku. Tp aku begitu menikmati sensasi yg ditimbulkannya.

Aku mendesah…dan Maxpun berdesis pelan…Ia mengambil napas dlm-dlm.
“Sakit sayang..?” tanyanya lembut.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku merasakan perih dan nikmat secara bersamaan. Kemudian dgn pelan namun pasti Max menekankan k0ntolnya kedalam dan semakin dlm. Oohh…aku rasakan sesuatu yg sangat besar bergerak masuk kelubangku yg sempit.
Max mendesah…

”Oooh…Sid, nikmat sekali sayang..” Max terus memasukkan k0ntolnya sampai betul-betul masuk semua.
Akupun merasakan memekku sangat sempit atau memang ukuran k0ntol Max yg terlalu besar. Aaaah…nikmat sekali. Pelan dan lembut Max mulai mengayunkan dan menggoyangkan pantatnya. Otomastis k0ntolnya pun jadi menghunjam-hunjam dlm lubang memekku. Aku mengerang dan mendesah sejadi-jadinya. Nikmat yg kini kurasakan tak terjabarkan dgn kata-kata. Aku malah mendorong pantat Max dgn tanganku seolah ingin k0ntol Max lebih masuk dan menusuk ke bagian terdlm memekku. Tau aku telah menikmati permainan ini, Max mempercepat gerakannya mengayuh pantat. Dan akupun semakin mengerang nikmat.

Setiap hunjaman k0ntolnya dimemekku kubarengin dgn pantatku yg sengaja kudorong keatas dan sedikit diangkat. Sehingga gesekan-gesakan k0ntol dgn dinding memekku dapat lebih kurasakan. Ujung k0ntol Max yg besar serasa menyodok-nyodok ujung peranakanku dan ini mendatangkan rasa yg luar biasa sekali. Desahanku telah berubah jadi erangan dan eranganku lama kelamaan berubah jadi jeritan yg tertahan.

Oooohh….Kami terhanyut dlm kenikmatan yg baru kali ini kami rasakan.
Tubuh kami kini sudah bermandi peluh, napas kami memburu Selama lebih dari 20 menit Max dan aku berpacu mendaki puncak kenikmatan. Sambil menghunjamkan k0ntolnya mulut Max tak mau ketinggalan dgn terus mengulum buah dadaku. Dihisapnya putting susuku dgn penuh gairah. Aku merasakan kenikmatan dari segala penjuru tubuhku. Max memang luar biasa!

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yg mendesak keluar dan dibarengi dgn rasa nikmat luar biasa. Aku akan orgasme, pikirku. Aku mendesis-desin dan sambil mempererat pelukanku dipunggungnya aku semakin mempercepat goyangan pantatku yg mengimbangi goyangan pantat Max.

“Max…oooohh…..sayangg….ooooccchhhh………..aku keluar….ooooooohhhhhhhhh…..!!” aku menjerit dan secara relfek kugigit bahu Max.

Max semakin mempercepat gerakan pantatnya, lincah sekali dia. Kurasakan bagian dlm memekku bedenyut-denyut dan ada rasa hangat yg menjalar. Aku memejamkan mataku rapat-rapat. Sementara mulutku mengerang nikmat. Napasku mendengus-dengus…

“Ooooggghh…Max…ooogggghhh….aaaagggghhhhh……… desahku bagai tak berkesudahan. Dan kini
giliran Max yg bagai orang kesetanan.

“Ooggghh…ooogggghhhh…..Sid… nikmat sekali jepitan memekmu, sayang….!” Desisnya.
Rupanya Max merasakan otot memekku berkontraksi meremas-remas dan menyedo-nyedot k0ntolnya yg ada didlm. Diapun semakin mempercepat hunjaman-hunjaman k0ntolnya dimemekku. Aku mendesis-desis. Selama 2 menit aku merasakan memekku berdenyut-denyut dan menghisap kuat k0ntol Max. Detik berikutnya Max berbisik dgn sedikit tertahan.

“Ooouuucccchh….Sid….aku mau keluar….!!”
“Aaaaahhh……….hhhhhhhm…….oooooooooohhhhhhhhh “ Tiba-tiba Max bangkit dan mengeluarkan k0ntolnya dari memekku.
Sedetik kemudian, cret…crett…crett….spermanya berloncatan dan tumpah tepat diatas perutku. Tangannya dgn gerakan sangat cepat mengocok-ngocok batang k0ntolnya seolah ingin mengeluarkan semua spermanya tanpa sisa.

“Aaaaahhhhhhhh…………….” Max mendesis panjang dan kemudian menarik napas lega.
Dibersihkannya sperma yg tumpah diperutku. Setelah itu kami tergolek lemas sambil mengatur napas kami yg masih agak memburu sewaktu mendaki puncak kenikmatan tadi. Dipandanginya wajahku yg masih berpeluh untuk kemudian disekanya. Dikecupnya lembut bibirku dan tersenyum.
“Terima kasih, sayang…” bisiknya.

“Mulai sekarang kamu sudah resmi jadi istriku walaupun orang lain belum ada yg tau.” katanya sambil mempermainkan hidungnya dgn hidungku.
Aku tersenyum sambil tanganku membelai wajah gantengnya yg masih bersimbah keringat. Kupandangi wajah Max, lelaki yg amat kucintai. Aku tdk menyesal karena telah kehilangan kesucianku malam ini, bisikku dlm hati sendiri. Aku malah bangga karena telah mempersembahkannya pada orang yg sangat..sangat…kucintai

Cerita Dewasa,Cerita Sex,Cerita Sex ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Bergambar,Cerita Sex Mesum,Cerita Sex Ngentot,Cerita Sex Bokep,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Terbaru,Cerita Sex 2016,Cerita Sexs,Cerita Sex Threesome,Cerita Sex Selingkuh,Cerita Sex model,Cerita Sex Sekretaris

Kamis, 06 Oktober 2016

Denyutan kemaluan Ivan yang menyesaki lubang vaginanya

Cerita Sex,Cerita Dewasa,Cerita Seks,Cerita Panas

Mafia Cerita Sex - Di Diskotik Jepang no. Saking imutnya seprti kancil dia menyelinap melalu selangkangan bergerak menuju arah belakang, dia remas - remas pantat gue.. Pikiranku kembali ke adegan yang kulihat dari lubang kunci sehingga kujawab, “Tapi saya baru mau mandi” Dengan harapan tante Dewi terangsang melihat keadaan tubuhku terlilit handuk kemudian mencumbuku.

Cerita Dewasa Denyutan kemaluan Ivan yang menyesaki lubang vaginanya

Cerita Sex

Ternyata tidak. Mama tiba-tiba berkata, “Ton, kamu udah siap menerima kado istimewamu..?” tanya Mama dengan tersenyum manis. Ketika memasuki liang senggamanya, Mama berteriak-teriak, apalagi ketika separuh penisku mulai menelusuri dinding vaginanya. Baru pertama kali aku merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti ini. Rasanya seperti diurut-urut, enak seperti dielus-elus daging basah dan kenyal. Gue enggak tahan,”Mbak ngentot yuk”kata gue edan-edanan.”Ayo, kapan dong, mending berani lagi”tangannya sekarang udah masuk kedalam jeans gue dan mulai narikin halus kontol gue. “Sudahlah Di, kamu lakukan saja, kamu sudah lama kan menginginkan ini?” aku tak bisa menjawab, sementara mataku kembali memandang selangkangan Tante Sofi yang kini terbuka lebar. Hmm, persetan dari mana dia tahu aku sudah menantikan ini, itu urusan belakang. Kontolku dikocok terus oleh tanteku.. Aku tidak mau kalah langsung kubuka CD tanteku..

“Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu saja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ.” Dalam hujan keringat dari dua tubuh telanjang kami ini, kami diam untuk beberapa saat. Sesekali masih terasa berkedut kontol tauke ataupun remasan dinding memekku. “Aaakhh.. pada gila ya.. oohh stop.. please.. stop.. cukup.. uugghh..”, Tante Rissa terus mengerang keasyikan, namun kami tidak perduli. Dan kulihat vagina Tante Rissa betul-betul membanjir. “Ini, statusnya dilengkapi dan periksa ulang Suhu dan Tensi untuk kamar dan ?. “Den, penisnya biar Bibik pijat juga yah. Pasti penis Den Anton kecapekan, kan tiap hari dipake terus.”

“Iya Ma. Tapi Ma, setelah ini masih ada ronde selanjutnya kan..?” tanyaku. Aku mulai meletakkan jari-jariku di punggungnya dan meremas-remas, sedang dia asyik menonton VCD yang aku putar. Pas adegan cewek bule yang memeknya dihisap dan dijilati oleh cowok negro, aku pura-pura bertanya.. “Ndy kamu hebat banget ciumannya, aku nggak pernah dicium seperti ini sama suamiku, bahkan akhir-akhir ini dia cuek dan nggak mau menyentuhku”, cerocos Bu melly curhat. “Aaugghh..!” desah Parni ketika lidah Bonsa menjilati dinding kemaluannya. “Ayo cepat turun dulu, aku kasih busa di bathupnya..”. Aku kaget setengah mati. Aku bingung sekali saat itu. Tanpa sadar kudekati Mamaku yang cantik itu. Tiba-tiba saja aku mendekap tubuh Mamaku yang bahenol itu. Kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Mama mencoba untuk berontak. “Kalau mau ngerokok isap saja,” aku mengambil bungkus marlboro hijau dan membukanya tapi ternyata kosong.

“Ndak apa-apa, eh iya, saya mau tanya, kamu ini umur berapa sih? Kok keliatannya masih muda ya..?” sambil menggeser posisi duduk saya supaya lebih dekat ke Mirna. “Pak Pram saya ke mari disuruh Ndoro Putri minta bantuan Pak Pram untuk memperbaiki komputer Ndoro Putri,” kata pembantu Tante Amy. “Yah.. pompa lagi.. cepat lagi.. Mamah juga Mas.. Kita bareng ya.. ya.. terus..” Dan akhirnya jeritan.. “Wah, kamu ini bisa saja, tapi memang iya sih ya, saya kok juga jadi mau ngiler nih.” The Nurse “Crot.. crot..” maniku menyemprot beberapa kali, terasa penuh vaginanya dengan maniku dan cairannya. Kami akhiri ronde pertama ini dengan klimaks bareng dan kenikmatan yang belum pernah kurasakan. Satu untukku dan tiga untuk Mamah. “Kamu dipanggil tante” Dia raih tungkai kakiku ke pundaknya. Tangannya erat-erat memeluki pinggulku. Bibirnya menyedoti memekku. Dia mengisep-isep cairan birahiku yang mengalir deras. Aku bukan lagi menggelinjang. Aku berontak karena tak tahan menanggung kegelian birahi yang sangat dahsyat. Suamiku tak pernah berbuat begini.

Sejak itu aku resmi jadi suami simpanan bos ku. Tapi aku menikmati karena aku juga jatuh cinta dengan wanita cantik idaman hati ini. Sudah setahun hubungan kami berjalan tanpa dicurigai siapapun karena kami bisa menjaga jarak kalau di kantor. Akhirnya akupun ngentot lagi sama vaginanya Mbak Hanny, tapi Maminya enggak sedikitpun bangun mungkin capek main sama aku, habis aku bikin tubuhnya dan vaginanya melayang-layang. Lagi asyik-asyiknya ngentotin vaginanya Kak Hanny, tiba-tiba terdengar suara. Benar-benar malam yang liar malam ini, waktu sudah menunjukkan pukul . pagi.. Wah tidak terasa sudah hampir jam aku bermain sex dengan dua wanita liar ini. Kali ini aku yang sudah bisa menguasai diri dari rasa takut, berbalik menggodanya Tanganku terus bergerilya menjamah seluruh tubuhnya.saat aku menciumi vaginanya yang masih tertutup calana, ia mulai terbangun aku takut sekali jangan-jangan ia akan berteriak atau marah-marah tapi dugaan ku meleset.

“uuhh tante.., sayang”, tak sanggup lagi rasanya aku menahan birahiku, kupeluk ia dari belakang, sendok yang ada di tangannya terjatuh, penisku yang sudah tegang kutempelkan erat di belahan pantatnya. Mendengar ceritaku ia terdiam dan menundukkan wajahnya, tapi salah satu tangannya tetap kupegang sambil kubelai dengan lembut. Melihat itu, aku lanjutkan dgn berkata bhw kalau ia tdk bersedia agar tdk usah memaksakan diri dan aku mohon maaf dgn sikapku krn ini pengaruh obat perangsang yg terminum olehku. Selain itu kusampaikan bahwa biarlah kutanggung akibat kesalahan minum obat tersebut dan aku katakan lagi bhw aku sadar kalau permintaanku itu tdk pantas tapi aku tdk bisa melihat jalan keluar lain sambil minta ia memikirkan solusi selain yg kutawarkan. Ia tetap diam, namun kurasakan bhw nafasnya mulai memburu dan dengan lirih ia berkata apa aku benar mau ML sama dia padahal ia merasa ia sudah agak tua, tdk terlalu cantik, agak sedikit gemuk dan berasal dari kampung. Aku jawab bahwa ia masih menarik, namun yg penting aku harus menyalurkan hasratku. Ia diam lagi dan aku duduk dikasur sambil tanganku merangkul dan membelai pundaknya yg terbuka karena dasternya model you can see. Kulitnya terasa masih halus dan sedikit kuremas pundaknya yg agak lunak dagingnya. Mukanya pucat dan bersemu merah berganti, ia juga terlihat gelisah. Revi merajuk, merayu Maminya, “Mi, boleh ya?” “Boleh mama cium kamu Roy? Sebagai tanda sayang?” tanya mertuaku. “Oohh nggak lah, Di.. Kemari deh”. Biasanya aku berhubungan seks dengan wanita-wanita yang kurang lebih sebaya denganku. Kali ini aku akan cerita pengalaman seks pertamaku dengan wanita yang beda umurnya cukup jauh denganku. “Aku cinta tante”

“Mas.. Rasanya vagina Angel ketagihan nih.. penis Mas?” sama Angel sayang aku juga. “Kok Kang Ujang boleh? Nanti Andre bilangin lho..” kata Andre mengancam. Karena aku sudah tidak bernafsu lagi, kujilati kemaluannya sambil berhitung untuk supaya aku terus mampu menjilati dalam keadaan tidak bernafsu sama sekali. Pada hitungan ke lidahku menjilati kemaluannya terakhir clitorisnya, dia mengerang dan menekan kepalaku dengan keras dan menjerit. Dia langsung tertidur sampai aku merasa ketakutan kalau-kalau ada orang datang. Kugendong Nuke ke tempat adikku dalam keadaan tertidur dan kupakaikan baju, lalu kututup selimut, lantas aku pergi ke rumah temanku untuk menghindari kecurigaan keluargaku. Inilah pengalaman pertamaku yang tak akan pernah aku lupakan. Aku tidak yakin apakah akan kualami kenikmatan ini lagi dalam hidupku. Aku terus bergoyang. Lalu aku mengakhiri permainanku dengan semprotan spermaku di dalam rahim mama tempat aku dikandung dulu. Aku benar-benar puas. Aku mencium mama. “Makasih ma.. permainan Mama sangat hebat”, pujiku “Mama mau kan..ngeseks sama boy lagi..?”, tanyaku. Mamaku tersenyum dan mengangguk “Asal.. jangan ketahuan Papa ya..!”, katanya. Aku cuma tersenyum. Lalu kami mandi bersama dalam bathtub. Malamnya aku terlelap tidur. Esok paginya, aku bangun pukul pagi dan bersiap mandi. Kulihat Papa dan Kak Dewi sedang sarapan, sedangkan Mama sedang di dapur. Kudatangi mama dan kuremas pantatnya. “Aduh.. kamu nakal ya..”, ujarnya. Kubuka celanaku dan kukelurkan penisku yang tegang. Kugesekkan ke pantat Mamaku. “Ma..ayo.. dong..”, bujukku “Gak.. ah..ntar dilihat papa!”, tolaknya “Please..”, rayuku “Isap aja ya..”, tawar mamaku “Ya.., deh..!”, sahutku lalu Mama jongkok dan mengisap penisku. Mataku meram melek menahan nikmatnya. Sampai kusemburkan lahar hangat kemulut mama. “Ohh.. Borry terus.. hentakkan yang hebat Borry..” Selang beberapa menit, Tak lama kemudian, Imel datang lagi ke ruang TV dengan mengenakan busana tidurnya yang tipis sekali. Di dalamnya dia hanya memakai celana dalam jenis G-string dan Bra tanpa tali. Revi yang sedang tidur-tiduran di karpet terbelalak kaget melihat Maminya memakai baju se-sexy itu.

Kelima wanita itu berebutan memilih alat yang mereka suka. Tante Rissa mengambil sebuah vibrator dengan warna pink transparan. Panjangnya kira-kira centimeter. Lentur sekali sehingga bisa melenting ke segala arah. Kemudian dengan gaya yang erotis dan dibuat-buat, Tante Rissa mengambil sebotol cairan pelicin dan meneteskannya ke ujung vibrator itu. Terlihat cairan itu menjalar ke beberapa bagian vibrator. “Ehmm iya Tante” dia berjalan sambil menatap paha aku yang terlihat sangat mulus sekali. Wanita itu kelihatan gemas sekali dengan penisku. Padahal ukurannya biasa saja. Dibanding gigolo-gigolo simpanannya pasti penisku tidak ada apa-apanya. Tapi Tante Rissa bernafsu sekali menjilat, mengulum dan mengisap penisku. Hingga akhirnya wanita itu mulai tidak tahan dan tiba-tiba sudah berdiri mengangkangi tubuhku. Tante Rissa berdiri dengan lututnya dan mulai merendahkan badannya. Sebelah tangannya menggenggam batang penisku yang memang sudah keras dan basah oleh air liurnya. Tante Emma yang mengetahui hal itu langsung mengambil alih, tangannya menggenggam batang penisku yang semula digenggam Tante Rissa. Sementara kini kedua tangan Tante Rissa yang lembut bertopang di atas dadaku. Tibalah kami di apartemen, setelah memarkir mobil tarunanya, kami langsung menuju lift ke lt. , kebetulan didalam lift itu cuma ada kami berdua. Aku berdiri di belakang Cindy, dan bisa kulihat betapa indahnya pantat itu. Oh.. Andai saja aku bisa memiliki dirimu Cindy.., ditengah lamunanku Cindy nyeletuk, Posisi menjadi dia persis di atas badanku. Aku terlentang dan dia jongkok di atas perutku. Burungku tegak berdiri tepat di bawah selangkangannya. Dengan memejamkan mata, “Mas.. Mamah gak tahaan..” Digenggamnya burungku dengan tangan kirinya, lalu dia menurunkan pantatnya. Kini ujung kemaluanku sudah menyentuh bibir vaginanya. Perlahan dan akhirnya masuk. Dengan posisi ini kurasakan, benar-benar kurasakan kalau barang Mamah masih sempit. Vagina terasa penuh dan terasa gesekan dindingnya. Mungkin karena lendir vaginanya tidak terlalu banyak, aku makin menikmati ronde kedua ini. “Aduuh.. Mas, enak sekali Mas. Aku nggak pernah sepuas ini. Aduuh.. kita suami istri kan?” lalu.. “Aduuh.. Mamah enak Mas.. mau keluar nikh.. aduuh..” katanya sambil meraih tanganku diarahkan ke susunya. Kuelus, lalu kuremas dan kuremas lagi semakin cepat mengikuti, gerakan naik turun pantatnya yang semakin cepat pula menuju orgasme. Dia lalu mengikuti Asti yang telah selesai penilaian ke toilet. Dia punya rencana terhadap Asti. “Berarti anak mama sudah mulai dewasa,” kata mama. “Aku juga mau keluar nih.. bareng yuk”, ajakku.

“Mas, aku basah..,” katanya dengan hampir tidak memperlambat goyangannya. “Tapi.. barusan nga.. ngapain?” tanyanya lagi karena tak pernah menyangka anak majikannya berani berbuat seperti itu padanya. “Bentar Tante aku mau bikin Tante semakin horney lagi..” Setelah deket langsung Didit langsung menyantap bibir sexy yang kumiliki. Tak lepas pantat dimaju-mundurkan kadang bergoyang yang semakin cepat gerakannya. Aku melawan terus dengan memainkan otot memekku sekuat tenaga agar Didit orgasme. Tubuhku terus menggeliat karena nikmat yang tiada tara ini. Aku dan Kak Wina selanjutnya menyuruh mereka berdua melepas seluruh pakaiannya. “Ha? Disimpan?” tanya saya sambil kebingungan. Dini menengadah ke atas sambil terus meremas-remas payudaranya dan.. “Ahh mass aku keluar lagi.. Ahh ahh..”

“Enak Ajie? Bau kan?”, Bisikku sambil terus melihatnya melahap lubangku. “Kalau kamu lagi pingin, telepon saja aku,” lanjutnya, “Tapi kalau aku yang pingin, boleh kan aku nelpon?” “Eh jangan! Nggak boleh bilang ke siapa-siapa..” kata Bi Eha panik. “Gila, loe hebat banget, Yud!” Jenny menciumku mesra, aku yang baru pertama merasakan nikmatnya dunia, masih penasaran, Aku kembali melumat bibir Jenny dan meremas-remas lembut buah dadanya! Kulihat Lusi istriku sangat menikmati permainan ini dengan posisi bagaikan anjing atau kuda yang sedang kawin, buah dada istriku yang besar bergoyang-goyang ke depan-belakang dengan cepatnya, sekujur tubuh Jay maupun istriku berkilap dikarenakan keringat yang mengalir pelan karena permainan seks mereka ini, kulit Jay yang putih mulus karena dia berdarah Manado ini kelihatan bersinar begitu juga istriku begitu menikmati panjangnya kemaluan Jay. Tangan istriku meremas sandaran sofa dan berteriak lirih, “Ah.. ah.. ah.. uh.. uh.. uh.. Jay tekan terus Jay dengan keras.. ah.. ah..” kulihat satu tangan istriku memutar dan memelintir puting susunya sendiri serta sekali-kali meremas keras buah dadanya tersebut seolah takut kehilangan kenikmatan permainan mereka tersebut. Tanpa menghentikan goyangan pantatnya, Poppy mendongakkan kepalanya meresapi kenikmatan dari setiap denyutan kemaluan Ivan yang menyesaki lubang vaginanya. “Oowww.. not that toy again Shin..”, serunya manja. Harus kuakui, mataku mulai mencuri-curi pandang ke seluruh tubuhnya. Wanita itu jelas turunan Cina. Kontras dengan pakaian kantor kemarin, ia sungguh menarik dalam pakaian santainya. Ia mengenakan celana jeans biru agak ketat, dipadu dengan kaos putih berlengan pendek dan leher rendah. Pakaiannya itu jelas menampilkan keseksian tubuhnya. Buah dadanya yang ranum berukuran kira-kira menonjol dengan jujurnya, dipadu oleh pinggang yang ramping. Pinggulnya bundar indah digantungi oleh dua bongkahan pantat yang besar. “Apa Ko Indra suka?”


Cerita Dewasa,Cerita Sex,Cerita Sex ABG,Cerita Sex Tante,Cerita Sex Sedarah,Cerita Sex Bergambar,Cerita Sex Mesum,Cerita Sex Ngentot,Cerita Sex Bokep,Cerita Sex Panas,Cerita Sex Terbaru,Cerita Sex 2016,Cerita Sexs,Cerita Sex Threesome,Cerita Sex Selingkuh,Cerita Sex model,Cerita Sex Sekretaris

Selasa, 14 Juni 2016

Cerita Sex Di Perkosa Ketagihan

Cerita Sex,Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Panas

Mafia Cerita Sex -  aku terilhami untuk menuliskan pengalamanku bermain seks dengan tetanggaku sendiri walaupun jalan ceritanya berbeda dengan yang diceriterakan oleh penulis ceritera tersebut. Aku harus menjalani dulu perjuangan yang berat.

 Cerita Sex Di Perkosa Malah Ketagihan






Aku, adalah seorang laki-laki yang sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang sudah berumur 7 tahun dan sudah bersekolah di kelas 1 SD. Karena anak kami masih kecil dan jarak antara rumah kami dengan SD tempat anak kami bersekolah cukup jauh maka setiap hari istriku mengantarkan anak kami ke sekolah. Kami mempunyai tetangga, suami istri, yang sudah sangat akrab dengan kami. Istrinya, sebut saja Heni, sangat akrab dengan istriku sehingga hampir setiap hari ia bermain ke rumah kami, dan kalau berkunjung ke rumah kami biasanya ia langsung masuk tanpa mengucapkan salam atau membunyikan bel. Suaminya sendiri bekerja di perusahaan swasta yang seringkali pulang malam dan kebetulan mereka belum dikaruniai anak.

Heni biasa memanggil istriku dengan sebutan Teteh sedangkan kepadaku ia biasa memanggil Mas Ary. Ia adalah seorang wanita yang cantik, kulitnya putih mulus, dan bodinya pun menggiurkan namun sangat bersahaja dan lugu, tidak pernah neko-neko, baik dalam cara berpakaian maupun cara bergaul, pokoknya polos. Kalau berkunjung ke rumah kami biasanya ia hanya memakai daster, atau kadang-kadang memakai kain, namun bagiku hal tersebut menjadikan dia sangat seksi. Aku merasa sangat senang kalau ia berkunjung ke rumah kami dan berlama-lama mengobrol dengan istriku sebab aku bisa berlama-lama pula mengintipnya dari balik garden kamar memperhatikan tubuhnya yang sintal. Bahkan kalau sudah tidak tahan aku pun melakukan onani sambil mengintipnya dan membayangkan seandainya tubuh Heni itu bugil dan aku menggumulinya. Bahkan tidak jarang ketika aku sedang menyetubuhi istriku pikiranku berfantasi seolah-olah aku sedang menyetubuhi Heni, dan memang dengan berfantasi seperti itu aku merasakan kenikmatan yang lebih dari biasanya. Namun aku sering merasa kesal karena orang yang sering kubayangkan tersebut selalu bersikap acuh terhadap diriku. Aku sering mencoba memancing ke arah pembicaraan yang agak menjurus namun ia tidak pernah menanggapinya, bahkan pura-pura tidak mendengarnya. Sikapnya tersebut membuat diriku semakin merasa penasaran.

Pada suatu hari istriku minta izin kepadaku untuk pergi ke rumah saudaranya yang rumahnya agak jauh, setelah pulang dari sekolah anak kami, dan diperkirakan baru akan pulang ke rumah sore harinya. Aku pun tidak berkeberatan karena aku pun tidak akan pergi ke mana-mana sehingga tidak khawatir dengan keadaan rumah kami. Aku pun bersantai-santai saja di rumah sambil menyetel vcd porno yang tidak berani kusetel bila anak kami sedang berada di rumah. Aku menikmati tontonan yang merangsang tersebut sambil membayangkan bahwa yang bermain di dalam film porno tersebut adalah aku dan Heni. Aku terhanyut dalam bayangan bahwa diriku sedang menggumuli tubuh bugil Heni. Kebetulan sudah seminggu kontolku tidak mendapat jatah karena istriku sedang berhalangan. Kontolku sudah sangat ngaceng.

Sedang asyik-asyiknya aku menonton sambil mempermainkan kontolku tiba-tiba pintu yang lupa aku kunci dibuka orang sehingga kontan kumatikan vcd player yang sedang kusetel. Ternyata yang membuka pintu tersebut adalah Heni yang langsung masuk sambil memanggil-manggil istriku: “Teh ……. Teh ……”. Ia memakai kain dan baju atasannya agak terbuka atasnya, sehingga pangkal buah dadanya yang putih mulus dan montok terlihat sedikit. Kain yang dipakainya agak basah, mungkin ia baru selesai mencuci sehingga pinggulnya tercetak dengan jelas dan aku tidak melihat garis segitiga di balik kain yang dikenakannya itu sehingga aku berkeyakinan bahwa ia tidak memakai celana dalam. Hal itu menyebabkan aku semakin terangsang. “Mas, Tetehnya ke mana?” tanyanya. “Ke rumah saudara, pulangnya nanti sore!” jawabku, “Memangnya mau apa sih Hen?” tanyaku. “Anu Mas, mau pinjam seterikaan, kepunyaan saya rusak”. Datanglah setan membisikkan ke dalam diriku bahwa aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan hal yang selama ini selalu menjadi fantasiku. Aku berkata: “Biasanya sih di kamar tidur, ambil saja sendiri!”, padahal aku tahu bahwa seterikaan tersebut tidak disimpan di kamar tidur. Ketika Heni pergi ke kamar tidur untuk mencari seterikaan aku segera mengunci pintu agar tidak ada orang lain yang mengganggu rencanaku. Kontolku sudah sangat keras karena ingin segera mendapat jatah.

Dari dalam kamar tidur terdengar Heni berkata: “Kok enggak ada Mas, di sebelah mana ya?” Aku pun masuk ke kamar tidur dengan hanya mengenakan sarung tanpa memakai celana dalam supaya rencanaku tidak terhambat dengan cd. Nampaknya Heni tidak menaruh curiga apa-apa. “Mungkin di bawah tempat tidur!” kataku. Kemudian Heni pun melihat ke bawah tempat tidur, tentu saja sambil menungging. Ketika Heni menungging aku melihat sebuah pemandangan yang sangat indah dan sangat menggairahkan. Pantat Heni yang bahenol tercetak jelas pada kain yang dikenakannya, dan sekali lagi aku yakin bahwa Heni tidak memakai celana dalam karena aku tidak melihat garis segitiga pada pantatnya yang bahenol itu.

Karena sudah tidak tahan maka aku pun segera memeluk tubuh Heni dari belakang sambil menggesek-gesekkan kontolku pada pantatnya. Ternyata Heni memberikan reaksi yang tidak kuharapkan. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukanku sambil memaki-maki diriku, “Mas apa-apaan sih? Lepaskan diriku, aku tidak mau melakukan ini, kamu bajingan Mas, tidak kusangka!” Melihat reaksinya yang seperti itu pada mulanya aku pun merasa ragu untuk melanjutkan perbuatanku, namun rupanya bisikan setan lebih dahsyat daripada akal sehatku, sehingga walaupun Heni meronta-ronta sambil memaki-maki aku tidak peduli, bahkan aku semakin bernafsu.

“Ampun Mas, lepaskan aku, aku tidak mau melakukan hal yang seperti ini!” Heni berkata sambil menangis dan meronta-ronta. Aku semakin ganas, kuhempaskan tubuh Heni ke atas tempat tidur sambil kutarik kainnya secara paksa sehingga kain tersebut lepas dan terlihatlah kemaluan Heni yang ditumbuhi bulu yang lebat. Aku pun semakin bernafsu, aku berusaha untuk membuka pakaian bagian atasnya, namun aku mendapat kesulitan karena Heni selalu mendekapkan tangannya erat-erat di daarya sambil terus menangis, kakinya pun selalu dirapatkan erat-erat sambil menendang-nendang sehingga aku mendapat kesulitan untuk memasukkan tubuhku di sela-sela pahanya.

Mungkin karena sudah lelah atau karena lengah pada suatu kesempatan aku mendapat kesempatan untuk merenggangkan pahanya dan tubuhku berhasil masuk ke sela-sela pahanya. Dari sana aku berusaha untuk melepaskan pakaian bagian atas Heni dan sekaligus bh-nya yang pertahankan dengan gigih, sambil meronta-ronta, menjerit-jerit, memukul, dan mencakari tubuhku. Akhirnya aku berhasil menyobekkan pakaian bagian atasnya dan melepaskan bh-nya, dan aku pun berhasil mendaratkan bibirku pada susunya yang masih keras, maklum belum dipakai menyusui, kecuali suaminya. Tidak ayal lagi aku pun menciumi susunya dan sesekali mengulum putingnya dan menyedotnya. Diperlakukan demikian Heni mendesah, namun ia masih terus melakukan perlawanan dengan cara meronta-ronta sambil menangis, walaupun rontaannya sudah agak melemah, entah karena kecapekan entah karena mulai terangsang. Sejalan dengan itu pertahanan pahanya pun mengendur sehingga lambat laun kontolku yang sudah super tegang berhasil menyentuh bagian luar memeknya dan kugesek-gesekkan kontolku untuk mencari lubang yang selama ini aku idam-idamkan.

Akhirnya kontolku berhasil menemukan lubang idaman tersebut, dan secara perlahan tapi pasti aku pun memasukkan kontolku ke dalam lubang tersebut. Ketika kontolku berhasil melakukan penetrasi ke dalam lubang memeknya serta merta terdengar mulut Heni mendesah dan merintih, badannya pun menjadi lemas, perlawanannya mengendur, dan ketika penetrasi kontolku kusempurnakan dengan tekanan yang mantap ia pun menjerit tertahan, “Aaaaaaahhhh ……… Maaaassssssss …………..”. Inilah reaksi yang sangat aku harapkan ….. Ketika kontolku aku naikturunkan dengan cepat pantat Heni pun mengimbanginya dengan gerakan sebaliknya. Sekarang bibirku pun dengan leluasa tanpa hambatan bermain di puting susunya, sesekali aku bergerilya di ketiaknya yang ditumbuhi bulu yang lebat, aromanya yang agak bau keringat sangat aku senangi sehingga semakin meningkatkan gairahku. Tangan Heni yang tadinya dipergunakan untuk memukuli dan mencakar tubuhku kini ia pergunakan untuk memeluk dan mengelus-elus punggungku. Tadinya ia menangis dan menjerit-jerit karena menolak kini ia menjerit-jerit dan mendesah serta mengerang karena gairah yang memuncak. “Aaaaaahhhhhh ……..…….. Eeeeeeeemmmmmmhh ……… Aduuuuuuuhhhhhhh ………. Ssssssshhhhhhh ………. Sssssssshhhhh ………… sssssshhhhhhh ………. Hhhhhhhmmmmmmmhhh ………….. Maaaaassssssss ……….. Nikmaaaaaaaaatttttttt”.

Heni meladeni semua permainanku dengan sangat agresif, kami berguling-guling di atas tempat tidur, kadang aku di atas kadang Heni yang di atas. Nampak sekali ia sangat menikmati permainan ini, sama sekali tidak tampak bekas-bekas penolakannya. Ketika aku suruh dia menungging untuk melakukan posisi dog-style ia menolak, “Jangaaaaaan Masssssssss, jangan dari dubuuuuur …… aku tidak suka, jijiiiiiiiiikkkkk” Rupanya ia mengira bahwa aku akan menyodominya karena oleh suaminya ia tidak pernah disetubuhi dari arah belakang. Aku pun memaksanya untuk menungging, posisi yang sangat aku sukai ketika bersetubuh dengan istriku. Dengan terpaksa Heni menuruti keinginanku. Pemandangan yang aku lihat saat Heni menungging semakin meningkatkan birahiku, pantatnya yang putih dan bulat serta memek berbulu yang terjepit oleh pahanya, aaaahhhh …….. sungguh menggairahkan. Segera aku arahkan kontolku yang masih sangat tegang itu ke arah memeknya yang terjepit oleh paha mulus. Ketika kontolku secara perlahan-lahan masuk ke dalam memeknya, Heni menggelepar-gelepar sambil kelojotan merasakan sensasi yang baru ia rasakan setelah beberapa tahun menikah. “Aaaaaaaaawwwwww ………….. Maaaassssssss ……….. Enak sekaliiiiiiiiiiiiii ……….. Terus Maaassssss jangan lepaskan kontolmuuuuuuuuuu ………. Adduuuuuuuuhhhhhhh ……….. teruuuuuus tekaaaannnnnnnnn yang keraaaaaaaaassss …….. kalau bisa dengan kanjutnyaaaaaaaa ……….! Tangannya menggapai-gapai ke belakang ingin menarik pantatku agar kontolku masuk lebih dalam lagi. Dengan leluasa pula kedua tanganku mempermainkan susunya yang menggelantung dengan indah. Maka erangan Heni pun semakin menjadi-jadi karena ia mendapat kenikmatan dari dua arah. Memeknya yang aku kocok terus dengan kontolku dan susunya yang terus aku permainkan dengan tanganku. Heni pun menjerit dan mengerang dengan histeris, mulutnya meracau mengeluarkan kata-kata jorok yang semakin merangsang diriku. “Maaaaaasssss ……….. jangan lepaskan kontolmu dari memekku, puaskanlah memekku dengan kontolmuuuuuuuu ……….. aku baru merasakan kenikmatan yang seperti ini, kontoooooolllllllll …………. Aaaaawwwww ………. Maaassssss, aku ingin agar kontolmu terus berada di dalam memekku ……. Aaaaaaaahhhhhhhhh ……….. sssssshhhhhhhhhhhhhh ………… sssssshhhhhhhhhh …………..

Kucabut kontolku dari memek Heni karena aku sudah merasa agak lelah dengan posisi tersebut. Heni menyangka bahwa aku akan menyelesaikan eweanku terhadap dirinya, ia marah-marah dan meminta agar aku segera memasukkan lagi kontolku ke dalam memeknya, “Mas jangan dicabut dong kontolnya, Aku belum orgasme nih! Ayo masukkan lagi! Aaaaahhhhh ……….. Kontolmu Maaaaasssss ………”. Namun aku mempunyai rencana lain. Aku minta agar Heni berbaring telentang dengan kaki menekuk. Aku segera mengarahkan mukaku ke memeknya, mula-mula aku jilati bagian dalam pahanya, kemudian aku jilati memeknya dan aku hisap itilnya. Diperlakukan demikian kontan Heni menjerit karena ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu, dan memang ia tidak pernah diperlakukan demikian oleh suaminya. Suaminya sangat konvensional. “Aaaaaawwwwww ……………… Maaaaaassssss ………. Geliiiiiiiiiiii …….. tapi nikmaaaaaaatt ………. Terus Mas hisap itilkuuuuuuuu ………, jilat memekkkuuuu ……… agak ke bawah Masss, ya …….. ya …….. benar disitu Maaaaasssss, ………. Aaaaaaaawwwwwww ………. Maaaasssssss …….. mana kontolmu …. Kesinikan …….. aku ingin mengulumnya ……..” Maka aku pun berputar untuk menyodorkan kontolku ke melut Heni, dan kami pun mempraktekkan posisi 69. Kontolku dijilati oleh Heni, kadang-kadang dikenyotnya dalam-dalam. Aku pun mengerang sambil terus menghisap memek Heni yang sudah dipenuhi oleh lendir.

Ketika aku merasa bahwa aku akan mencapai orgasme aku pun mencabut kontolku dari mulut Heni dan segera memasukkannya ke dalam memeknya sambil terus digenjot. Nampaknya Heni pun sama akan mencapai orgasme, gerakan pantatnya semakin liar, desahannya semakin kerap. Dan ketika aku merasa ada yang mendesak di dalam kontolku aku pun menekankannya keras-keras ke dalam memek Heni sambil memeluk tubuhnya erat-erat, Heni pun demikian pula, ia memeluk tubuhku erat-erat sambil menahan tekanan kontolku. Maka kami pun mengalami orgasme secara bersamaan dan kami pun sama-sama mengeluarkan suara erangan yang panjang sebagai tanda bahwa kami berada pada puncak kepuasan. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh …………. Ssssssshhhhhhhhhhhh …………….. Maaaaaaaaaaasssssss ………….., Heeeeeeeeeennnnnnnn. Tubuh kami pun terkulai bermandikan keringat, Heni memeluk erat-erat tubuhku seolah-olah tidak mau lepas selamanya. Ia berbisik dengan manja sambil nafasnya terengah-engah, “Mas maaf yah atas kelakuanku terhadap Mas Ary tadi! Tadinya Heni kira ngewe itu dengan siapa pun rasanya sama saja, ternyata ngewe dengan Mas Ary itu beribu-ribu kali lebih nikmat dibandingkan dengan ngewe bersama suami Heni. Terus terang saja kadang-kadang Heni merasa bosan ngewe dengan suami Heni karena ia hanya mementingkan diri sendiri. Baru kali ini Heni mengalami yang namanya orgasme. Ah kontol Mas Ary sangat perkasa, aaaahhhhh ………. Kontooooooool……. Kamu ini kok nikmat sekali!”. Sambil berkata demikian ia mempermainkan kontolku sehingga kontolku tegang kembali.

Melihat kontolku sudah ngaceng kembali Heni merengek meminta ngewe kembali. “Mas, ngewe kembali yu? Tuh kan kontolnya sudah tegang kembali, Heni akan meladeni Mas Ary sampai kapan pun kontol Mas Ary sanggup menancap di dalam memek Heni! Ayo dong Mas!” Aku pura-pura tidak mau (padahal nafsu sih sudah sampai ke puncak ubun-ubun) “Enggak mau ah nanti suamimu keburu pulang, lagi pula Heni kan mau menyeterika, kita cari saja seterikaan itu”. “Enggak Mas, suamiku sedang pergi ke luar kota, baru besok ia pulang. Soal seterikaan sekarang sudah menjadi nomor ke berapa, jauh lebih penting kontolmu Mas dibanding dengan seterikaan. Menyeterika itu seringkali terasa membosankan tetapi ngewe denganmu rasanya aku tidak akan pernah bosan maaaaaasss ……. Cepet doooongngng ……… coba raba memekku Mas, sudah sangat basaaahhhh masssss, ayo doooooong ……., kontoooooollllll …….”, Heni menjawab, ia tetap merengek meminta agar aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya, namun aku diam saja seperti tidak mau. Karena aku tidak bereaksi maka Heni pun mengambil inisiatif, ia segera naik ke atas tubuhku, menciumi dadaku, menyodorkan susunya ke mulutku agar kuhisap, menyodorkan ketiaknya agar aku menjilatnya, dan menyodorkan memeknya ke mukaku, “Mas, jilat dong memekku, hisap itilnya sesukamu, aku inghin mendapat kenikmatan lagi, silahkan dong Maaasssss …..!”. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang menggairahkan ini, segera aku menjilati memeknya dan menghisap itilnya, kadang-kadang menggigitnya. Diperlakukan demikian Heni mendesah dan mengerang sambil pinggulnya tidak henti-hentinya menggelinjang, “Aaaahhhhh ……… Maaasssss ……… terus beri aku kenikmataaaaaan, aaaawwwww …….. jangan terlalu keras menggigitnya dooooong Mas, aaahhhhhhhh ………. Ssssshhhhhhh ……… ssssssshhhhhhh ……….. nikmaaaaaaat ……….”.

Tidak lama kemudian ia mengarahkan lubang memeknya ke arah kontolku yang memang sudah ngaceng dari tadi dan kontolku pun menyambutnya dan terus melakukan penetrasi sambil terus kunaikturunkan pantatku untuk mengimbangi goyangan pantat Heni. “Aaaaaaaaaaaahhhhhhhh ……….. ssssshhhhhhh ……..”, Heni pun menjerit karena merasa senang diperlakukan demikian, “aaaaaahhhhh …….. hmmmmmhhhhhh ………. Massssssss …….. terus tancapkan kontolmu ke dalam memekku ……… ssssshhhhhhhh ……. aku rela maaaasssss …….. Maaassss bulu kanjutmu menambah kenikmatan memekku maaaaasssss …….. aaaahhhhhhh ……. Kontoooollllll …….. Setelah berlangsung agak lama Heni meminta aku mencabut kontolku dan menusuknya dari belakang, “Maaaaasssss …….. cabut dulu kontolmuuuuuuuu …….. aku ingin ditusuk dari belakang aaaaahhhhhhhh ……… cepet maaasssss tusuk memekku dari belakaaaaaaang ……… Maaaaassssss …….. aaaaaaaahhhhh …….. sssshhhhhhhh …….. Maaassssss …….. Heni memang hebat, kini ia sangat agresif dan pandai merangsang serta memuaskan lawan mainnya. Ia langsung bisa mengimbangi permainanku dalam bersetubuh. Kami pun melakukan berbagai variasi dan posisi dalam bersetubuh, dan kami selalu mengalami orgasme secara bersamaan.

Sejak saat itu aku dan Heni sering melakukan persetubuhan, tergantung siapa yang lebih dulu menginginkan maka dialah yang menghampiri lebih dulu. Kadang-kadang Heni datang ke rumahku ketika istriku sedang tidak ada di rumah. Kadang-kadang aku yang datang ke rumahnya ketika suaminya sudah pergi. Tidak jarang ketika aku datang ke rumahnya Heni sedang mencuci pakaian di kamar mandi maka kami pun bersetubuh di kamar mandi, kadang-kadang kami bersetubuh di dapur kalau kebetulan ia sedang memasak, kadang-kadang pula kami melakukannya dengan berbasah-basah di lantai bila ia sedang mengepel. Dan setiap variasi persetubuhan yang kami lakukan selalu memberi sensasi baru kepada kami.

Heni semakin sering berkunjung ke rumahku, walaupun sedang ada istriku. Kalau ia berkunjung ke rumahku dan istriku sedang di kamar mandi atau sedang ke warung kami memanfaatkan waktu yang sebentar tersebut dengan seefektif mungkin untuk ngewe atau sekedar saling mempermainkan kemaluan kami masing-masing. Atau kalau kami berpapasan maka tangan Heni tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk menjawil kontolku dan aku pun selalu mencubit memeknya yang memang seolah-olah ia sodorkan untuk kucubit atau kujawil dan kuremas susunya.

Kini, setelah aku mempunyai lubang kenikmatan yang baru, yaitu memek Heni, aku pun tidak terlalu banyak menuntut kepada istriku, demikian juga Heni, ia tidak lagi suka meminta jatah kepada suaminya.

Ah Heniiiiiii …….. Heni, dulu kamu meronta-ronta, kini kamu meminta-minta ……..!

Cerita Sex Dewasa,Cerita Seks Mesum,Cerita Hot Paling Panas

Minggu, 12 Juni 2016

Cerita Sex Managerku Bergairah

 Cerita Sex,Cerita Dewasa,Cerita Hot,Cerita Mesum,Cerita Panas

Cerita Dewasa – Pengalaman Sexku ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Ketika itu bekerja pada sebuah perusahan besar di daerah *****. Disitu aku menjabat sebagai bagian umum. Perkenalkan namaku Dewa, saat itu aku berumur 29 tahun. Dikantor aku termasuk pegawai muda diantara pegawai pegawai yang lainnya. Perawakakanku sangat bagus denga tinggi kurang lebih 175cm, dengan berat badanku sekitar 60kg, badan atletisku dan tubuh sixpack membuat aku mempunyai daya tarik dikantor.

 Cerita Sex Managerku Bergairah


Cerita Sex Birahi Manager Haus Sex
Cerita Sex Birahi Manager Haus Sex
Cerita Sex – Beberapa bulan ini perusahaanku sedang mengalami kegoyahan. Banyak terjadi masalah dikantor yang diantara dipecatnya seorang manager oleh sang owner. Kegoyahan itu membuat semua pegawai merasakan imbasnya. Antaranya sering pulang malam, banyak lemburan dikantor, dan lain-lain nya. Dan saat itu kita mengusulkan untuk rapat agar menyelesaikan masalah perusahan, mencari solusi bagaimana agar perusahaan kembali menjadi stabil.
Setelah kurang lebih satu jam rapat, akhirnya kita mnemukan salah satu solusi diantara masalah-masalah perusahaan diantaranya dengan mendatangkan seorang manager baru dari perusahaan sahabat. Dan akhirnya setelah bebrapa bulan datang juga sebuah manager kita yang baru namanya Karin. Dia sangat cantik sekali, kulitnya putih bersih, rembutnya hitam-hitam pirang lurus sepunggung, bibirnya yang tipis seksi, dan yang sangat menjadi perhatian adalah payudaranya yang sangat montok, kuperkirakan sekitar 36B. Cerita Sex DaunMuda
Tingginya hanya sekitar 165cm saja dan berat badan yang kutafsir sekitar 55kg. ternyata manager baruku ini adalah seorang keturunan tionghoa. Pantas saja putih bener, kebanykan keturunan tiongha/china kan orangnya putih-putih. Dia selalu memakai pakaian yang sangat minim dan ketat, dengan baju merah dongkar dan rok hitam mininya sangat membuat tubuhnya kelihatan menonjol keindahannya. kesempurnaan yang dimiliki managerku yang baru ini membuat dia menjadi pusat perhatian saat masuk kantor memasuki ruangannya. Cerita Ngentot
Sebelum manager baruku ini, aku sering juga mengajak makan managerku yang lama. Dia juga seorang wanita tapi agak tua dan tidak terlalu cantik, bisa dibilang biasa saja. Saat kedatangan manager baruku ini aku tidak bisa merubah kebiasaan lamaku yaitu dengan mengajaknya makan siang saat jam istirahat. Kemudian kuajaklah dia makan siang dan Karin (sang manager) pun mengiyakannya sebagai tanda perkenalan. Cerita Mesum HOT
Ketika makan siang bersama dengan kendaraanku menuju salah satu rumah makan. Saat memilih meja, aku langsung menuju meja tapi aku agak terburu-buru atau si Karin yang terburu-buru sehingga terjadi tabrakan tanpa sengaja antara aku dan Karin. Hidungnya yang tidak begitu mancung menempel pada hidungku yang mancung sekali. Tubuhnya tinggi bila dibanding wanita biasa kira-kira 170 cm plus sepatu, soalnya tubuhku juga sekitar itu, secara reflek aku memeluknya karena takut terjatuh. Dalam dekapanku terasa harum parfum mahal yang membuat darahku berdesir mengalirkan hawa nafsu hingga ke ubun-ubun. Cerita Sex Seru
Setelah makan siang kamipun kembali ke kantor dengan tidak membawa hubungan serius setelah kecelakaan tadi. Kira-kira setengah jam akan berakhir jam kantor aku hubungi dia lewat telepon untuk mengajak nonton dan kebetulan filmnya bagus sekali. Eh, ternyata dia setuju kalau nontonnya hanya berdua saja. “Ngesex Memek ABG”
Selama dalam perjalanan dari kantor ke tempat tujuan kami ngobrol ngalor-ngidul tidak karuan sambil tertawa dan kutanya apakah dia sudah punya pacar? dijawab baru putus tiga bulan yang lalu, makanya dia memutuskan untuk mutasi ke tempatku sambil mengepulkan asap rokoknya. Kupikir dia ini sedang labil dan kebetulan sekali aku mau mendekatinya, kuparkir kendaraanku di halaman pelataran parkir Jakarta Theatre. “Ngentot Wanita Haus Sex”
Setelah membeli karcis dan makanan kecil kami masuk ke dalam gedung yang masih sepi. Aku mengambil posisi di tengah dan kebetulan boleh memilih tempat. Sesaat filmpun dimulai, tanganku mulai menyentuh tangannya. Dia masih membiarkan, mulailah pikiran kotorku, kuremas secara halus, dia hanya membalas dengan halus. Kudekatkan wajahku ke telinganya, nafasku mulai masuk melalui lubang telinganya yang sedikit terhalang oleh rambutnya yang harum. “ML Wanita Hyper Sex”
Kuberanikan untuk mencium leher, dia hanya mendesah, “aahh.”, kuarahkan ke pipi lalu ke mulutnya. Pertama kali dia menutup mulutnya, tetapi tidak kuasa untuk membukanya juga karena aku terus menempelkan mulutku pada bibirnya. Tanganku tetap meremas jemari tangannya lalu pindah ke leher dan sebelah lagi ke pinggang. Lama-kelamaan naik ke buah dada yang masih terbungkus oleh pakaian seragam kantor. Lidahku mulai memainkan lidahnya begitu pula sebaliknya. Kuperhatikan matanya mulai terpejam, jemarinya mulai agak kuat meremas tubuhku. Kami tidak memperhatikan lagi film yang sedang diputar, kami sedang asyik melakukan adegan sendiri. Cerita Sex Manager
Aku raba kebagian paha tetapi terhalang oleh stokingnya yang panjang sampai perut, sudah tidak sabar aku untuk meraba kemaluannya. Dia menarik tanganku agar jangan meraba barangnya, kuraba terus akhirnya dia mengalah, kubisikkan untuk melepaskan stockingnya. Kami lepas semua permainan sejenak, hanya untuk melepas stocking yang dia pakai. Setelah itu kembali lagi ke permainan semula, kurogoh dengan tanganku yang kekar dan berbulu selangkangannya yang masih terbungkus dengan celana dalamnyanya, tanganku mulai ke pinggulnya.
Eh., ternyata dia memakai celana dalam yang diikat di samping. Kubuka secara perlahan agar memudahkan untuk melanjutkan ke vaginanya, yang terdengar hanya suara nafas kami berdua. Sampailah aku ke permukaan pusar lalu turun ke bawah. Betapa kagetnya aku saat meraba-raba, ternyata bulunya hanya sedikit. Kulepas mulutku dari mulutnya dan bertanya padanya, “Hung., bulunya dicukur ya”, bukan jawaban yang aku terima tetapi tamparan kecil mendarat di pipiku, “plak..”. Kulanjutkan lagi sampai akhirnya film sudah akan selesai.
Cerita Sex Terbaru 2016
Kubisikkan lagi, “Saya ikatkan lagi ya Hung”, tidak dijawab, lalu kuikatkan kembali. Filmpun berakhir kita semua bubar dan kamipun keluar dari gedung bioskop. Melangkah di anak tangga ke tujuh dia menarikku lalu membisikkan, “Dewa., talinya lepas”, buru-buru aku pepet samping kiri pinggulnya agar orang tidak menyangka, turun lagi ke anak tangga kesembilan, eh dia membisikkan lagi, “Dewa satunya juga, kamu sih ngikatnya nggak kencang”. “Sorry dech”, kataku. Akhirnya dia menuruni tangga dengan merapatkan kaki dan memegang samping kiri karena roknya mau terlepas, cepat-cepat aku mengambil mobil sementara dia berdiri menunggu. “Sampai juga akhirnya.”, kita berdua hanya cekikikan saja.
“Mau kemana lagi kita sekarang”, kataku.
“Terserah aja soalnya mau pulang males, lagi ribut sama Mama”
Lalu kupercepat laju kendaraanku menuju Pondok Tirta di Halim, langsung masuk ke kamar, ngoborol-ngobrol sebentar. Kemudian aku ke kamar mandi untuk memasang kondom dan kembali lagi terus kuciumi dia sampai tidak bisa bernafas. “Eeeggh”, sambil mencabut mulutnya, mulailah aku menciumnya secara perlahan sambil membuka baju dan BH-nya. Payudaranya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tetapi putingnya masuk ke dalam. Kuciumi payudaranya.
“EeeeSsshh”, sambil menjambak rambutku. Kumainkan lidahku di putingnya, sementara yang satu lagi mencari putingya yang bebas. Kuturunkan roknya lalu celana dalamnya dan kubaringkan ke tempat tidur sambil terus memainkan puting susunya dengan mulutku. Dan ternyata bulu vaginanya hanya sedikit dan halus. Kubelai-belai meski hanya sedikit. Lalu kumainkan clitorisnya yang sudah basah. Dia agak kaget. Kuperhalus lagi permainkanku. Mau kumasukan jemariku ke vaginanya tapi, “aauu, sakit Dewa”, lho anak ini masih perawan rupanya, pikirku.
Kujilati terus puting susunya sambil kubuka seluruh pakaianku. Kini tampaklah dua insan manusia tanpa benang sehelaipun. Dia memperhatikan penisku sejenak, lalu tertawa.
“Kenapa”, kataku.
“Kayak penjahat yang di film-film”, katanya.
Lalu pelan-pelan kugeser pahanya agar merenggang dan kuatur posisi untuk siap menerobos lubang vaginanya. “Eeeggh…, egghh”, belum bisa juga. Dua kali baru kepalanya saja yang masuk. Aku tidak kehilangan akal. Kujilat terus puting susunya dan secara perlahan kutekan pantatku agar masuk seluruh penisku, dan “bleess”, barulah masuk seluruhnya penisku ke dalam vaginanya, lalu mulai kuayunkan secara perlahan, makin lama makin cepat ayunan pantatku dan kurasakan seluruh persendianku mau copot. “Ngesex Memek ABG”
“EEeeeSsshh…Aaaahhhh….oooh my God”, katanya aku setop permainan sementara karena aku mau keluar jadi kuhentikan sesaat. Eh, dia malah membalikkan tubuhku, kuatur posisi penisku agar tepat di lubang vaginanya, dan “Bleeess”, masuk lagi penisku dalam lumatan vaginanya yang masih kencang. Dia menaik-turunkan badannya. “Ssshh…, sshh…, aahh”, mulutku disumpalnya dengan susunya dan putingnya yang sudah menegang sempurna.
Lima menit kemudian dia menjambak rambutku dan mejatuhkan tubuhnya ke tubuhku.
“Dewa…, aakkh…, Dewa…, ssshh”, rupanya dia mencapai klimaks dan aku merasakan kejutan dari lubang vaginanya. Air maniku menyemprot ke dalam liang vaginanya kira-kira empat atau lima kali semprotan.
Akhirnya kami berdua lemas dan bermandikan keringat. Sesaat tubuhnya masih menindih tubuhku dan kurasakan air maniku mulai mengalir dari lubang vaginanya menuju keluar melalui batang penisku. Kuciumi dia dengan mesra, dia menggeser ke kasur, kuambil sebatang rokok untuk kuhisap. Ternyata dia juga menghisapnya sambil memijat-mijat penisku.
“Jangan di kepalanya”, kataku.
“Emangnya kenapa?”, katanya.
“Ngilu.., tau nggak”.
Kutanya secara perlahan, “Kris…”.
“hhmm”, katanya.
“Cowok kamu dulu suka begini nggak..”.
“Nggak berani”, katanya.
“Jadi ini yang pertama”, aku bilang, dia hanya mengangguk.
Aku tidak memperhatikan kalau di penisku itu ada tetesan darah dari vaginanya. Dia berjalan menuju kamar mandi, lalu berteriak kecil, “aauuuu…”.
“Kenapa..”, kataku.
“Kencingnya sakit”, katanya.
Kemudian kami mandi berdua, tanpa terasa sudah jam delapan tiga puluh malam, kami memesan makan malam dan disantap tanpa busana. Setelah santap malam kujilati lagi puting susunya sampai menegang kembali. Tapi saat aku meminta untuk mengulum penisku dia hanya menggeleng. Kuraba vaginanya yang mulai basah lagi. Kubalikkan dia, kuarahkan penisku ke liang vaginanya dari belakang. “aauu”, katanya kaget. Lalu dia memintaku berbalik dengan posisi telentang sedang dia mulai menaiki tubuhku sambil susunya disodorkan untuk dilumat lagi. Kuarahkan lagi tanpa melihat di mana posisi lubangnya dan “Bless”, dia mulai mengayunkan tubuhnya. “Ngesex Memek ABG”
Lima menit kemudian tubuhnya kembali mengejang dan, “Aahh…, Dewa”, sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Kini giliranku yang tidak bisa bernafas karena tertutup rambut. Kuhentakkan pantatku kuat-kuat dan kuayunkan pantatku dan, air maniki keluar untuk yang kedua kalinya. Kami istirahat sejenak lalu mandi air hangat lagi dan kutengok jam tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Lalu kuantarkan dia pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya kami bekerja seperti biasanya antara atasan dan bawahan tetapi dia menghubungiku. “Dewa…, masih sakit kalau pipis, tuh sampai tadi pagi juga sakit”. Aku bilang nggak apa-apa. tapi nikmat kan? Mau nambah, dia bilang nanti.
                                                                                                                                                                
Cerita Sex Terbaru 2016, Cerita Dewasa, cerita Mesum HOT, Cerita Ngentot ABG, Mahasiswi, SPG, Model, Bispak, Tante Girang, Manager, Sekertaris, Bidan, Perawat, Pramugari, Penjaga toko, Kasir Swalayan, Guru,  Artis, Pembantu, Biduan, Perkosaan, Ngesex Memek Perawan.

Jumat, 10 Juni 2016

Cerita Sex Sedarah Dengan Lusi

Cerita Ngentot Lusi, Saudara Tiriku yang Liar

Sebelum aku cerita seks, kenalkan dulu namaku Ben. Cerita sex dewasaku ini dimulai, waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Lusi dan yang satunya lagi sudah kuliah, namanya Riri. Si Lusi cocok sekali kalau dijadikan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Riri paling cocok untuk iklan BH sama suplemen payudara.

Sejak pertama aku tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dengan Lusi, ini juga aku sedang kecapaian karena baru pulang sekolah. “Lus! entar kalau ada perlu sama aku, aku ada di kamar,” teriakku dari kamar. Aku mulai menyalakan komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Lusi masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. “Ben, kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!” katanya dengan suara manja. Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku.
“Lus..! nich bukunya, kemarenan aku udah nyatet,” kataku.
Lusi tidak memperhatikanku tapi malah memperhatikan film BF yang sedang di komputerku.
“Lus.. kamu bengong aja!” kataku pura-pura tidak tahu.
“Eh.. iya, Ben kamu nyetel apa tuh! aku bilangin bonyok loh!” kata Lusi.
“Eeh… kamu barusan kan juga liat, aku tau kamu suka juga kan,” balas aku.
“Mending kita nonton sama-sama, tenang aja aku tutup mulut kok,” ajakku berusaha mencari peluang.
“Bener nich, kamu kagak bilang?” katanya ragu.
“Suwer dech!” kataku sambil mengambilkan dia kursi.
Lusi mulai serius menonton tiap adegan, sedangkan aku serius untuk terus menatap tubuhnya.
“Lus, sebelum ini kamu pernah nonton bokep kagak?” tanyaku.
“Pernah, noh aku punya VCD-nya,” jawabnya.
Wah gila juga nich cewek, diam-diam nakal juga.
“Kalau ML?” tanyaku lagi.
“Belom,” katanya, “Tapi… kalo sendiri sich sering.”
Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia. Bagaimana caranya si “Beni Junior” bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang.
Melihat dadanya yang naik-turun karena terangsang, aku jadi semakin terangsang, dan batang kemaluanku pun makin tambah tegang.
“Lus, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing.
“Iya nic Ben, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,” katanya.
“Eh… ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku.
“Kasihanilah si Beni kecil,” kataku.
“Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku.
“Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,” kataku memancing.
Dan ternyata tidak ia gubris, bahkan terus berjalan ke kamar mandi sambil tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya menggosok-gosok kemaluannya, dan hal inilah yang membuatku tidak menyerah. Kukejar terus dia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi, kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian langsung kucium bibirnya. Sesaat ia menolak tapi kemudian ia pasrah, bahkan menikmati setiap permainan lidahku. “Kau akan aku berikan pengalaman yang paling memuaskan,” kataku, kemudian kembali melanjutkan menciumnya. Tangannya membuka baju sekolah yang masih kami kenakan dan juga ia membuka BH-nya dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya sangat berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh.
Perlahan ia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya. “Kita ke dalam kamar yuk!” ajaknya setelah kami berdua sama-sama bugil, “Terserah kaulah,” kataku, “Yang penting kau akan kupuaskan.” Tak kusangka ia berani menarik penisku sambil berciuman, dan perlahan-lahan kami berjalan menuju kamarnya. “Ben, kamu tiduran dech, kita pake ‘69′ mau tidak?” katanya sambil mendorongku ke kasurnya. Ia mulai menindihku, didekatkan vaginanya ke mukaku sementara penisku diemutnya, aku mulai mencium-cium vaginanya yang sudah basah itu, dan aroma kewanitaannya membuatku semakin bersemangat untuk langsung memainkan klitorisnya.
Tak lama setelah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu aku menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara tanganku bermain di dadanya. Tak lama kemudian ia melepaskan emutannya. “Jangan hentikan Ben… Ach… percepat Ben, aku mau keluar nich! ach… ach… aachh… Ben… aku ke.. luar,” katanya berbarengan dengan menyemprotnya cairan kental dari vaginanya. Dan kemudian dia lemas dan tiduran di sebelahku.
“Lus, sekali lagi yah, aku belum keluar nich,” pintaku.
“Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,” jelasnya.
Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati vaginanya.
“Lus, aku masukkin sekarang yach,” kataku sambil memasukkan penisku perlahan-lahan.
Kelihatannya Lusi sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Vagina Lusi masih sempit sekali, penisku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil penisku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm.
“Jangan Ben… entar aku hamil!” katanya tanpa berontak.
“Kamu udah mens belom?” tanyaku.
“Udah, baru kemaren, emang kenapa?” katanya.
Sambil aku masukkan penisku yang setengah, aku jawab pertanyaannya,
“Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.”
“Ach… ach… ahh…! sakit Ben, a.. ach… ahh, pelan-pelan, aa… aach… aachh…!” katanya berteriak nikmat.
“Tenang aja cuma sebentar kok, Lus mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan penis dan berusaha memutar tubuhnya.
Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.
“Ach… a… aa ach…” teriaknya.
“Sakit lagi Ben… a.. aa… ach…”
“Tahan aja, cuma sebentar kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya.
“Ben,. ach pengen… ach.. a… keluar lagi Ben…” katanya.
“Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,” balasku.
“Cepetan Ben, enggak tahan nich,” katanya semakin menegang.
“A… ach… aachh…! yach kan keluar.”
“Aku juga Say…” kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya.
Kucabut penisku dan aku melihat seprei, apakah ada darahnya atau tidak? tapi tenyata tidak.
“Lus kamu enggak perawan yach,” tanyaku.
“Iya Ben, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya.
“Ben ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.””Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.”
“Siapa sih yang bisa nolak ‘Beni Junior’,” katanya mesra.
Setelah saat itu setidaknya seminggu sekali aku selalu melakukan ML dengan Lusi, terkadang aku yang memang sedang ingin atau terkadang juga Lusi yang sering ketagihan, yang asyik sampai saat ini kami selalu bermain di rumah tanpa ada seorang pun yang tahu, kadang tengah malam aku ke kamar Lusi atau sebaliknya, kadang juga saat siang pulang sekolah kalau tidak ada orang di rumah.
Kali ini kelihatannya Lusi lagi ingin, sejak di sekolah ia terus menggodaku, bahkan ia sempat membisikkan kemauannya untuk ML siang ini di rumah, tapi malangnya siang ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tak jadi melakukan ini. Aku menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan ia mengiyakan saja, katanya asal bisa ML denganku hari ini ia menurut saja kemauanku.
Ternyata sampai malan ayahku belum tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV, dan aku pun tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, tapi malang malah aku yang tertidur duluan. Dalam mimpiku, aku sedang dikelitiki sesuatu dan berusaha aku tahan, tapi kemudian sesuatu menindihku hingga aku sesak napas dan kemudian terbangun.
“Lusi! apa Ayah sudah tidur?” tanyaku melihat ternyata Lusi yang menindihiku dengan keadaan telanjang.
“kamu mulai nakal Ben, dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,” katanya mesra sambil memegang penisku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya.
“Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,” kataku.
“kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil memperlihatkan penisku.
“Aku emut yach.”
Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan.
“Lus jangan cepet-cepet dong, kasian ‘Beni Junior’ dong!”
“Aku udah kepengen berat Ben!” katanya lagi.
“Mending seperti biasa, kita pake posisi ‘69′ dan kita sama-sama enak,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut.
Aku mulai menjilat-jilat vaginanya yang telah basah sambil tanganku memencet-mencet payudaranya yang semakin keras, terus kuhisap vaginanya dan mulai kumasukkan lidahku untuk mencari-cari klitorisnya.

Baca Cerita Sex Bergambar Terbaru

“Aach… achh…” desahnya ketika kutemukan klitorisnya.
“Ben! kamu pinter banget nemuin itilku, a.. achh.. ahh..”
“kamu juga makin pinter ngulum ‘Beni’ kecil,” kataku lagi.
“Ben, kali ini kita tidak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..” katanya sambil mendesah.
“Cukup sekali aja nembaknya, taapi… sa.. ma.. ss.. sa… ma… maa ac… ach…” katanya sambil menikmati jilatanku.
“Tapi Ben aku.. ma.. u.. keluar nich! Ach.. a… aahh…” katanya sambil menegang kemudian mengeluarkan cairan dari vaginanya.
“Kayaknya kamu harus dua kali dech!” kataku sambil merubah posisi.
“Ya udah dech, tapi sekarang kamu masukin yach,” katanya lagi.
“Bersiaplah akan aku masukkan ini sekarang,” kataku sambil mengarahkan penisku ke vaginanya.
“Siap-siap yach!”
“Ayo dech,” katanya.
“Ach… a… ahh…” desahnya ketika kumasukkan penisku.
“Pelan-pelan dong!”
“Inikan udah pelan Lus,” kataku sambil mulai bergoyang.
“Lus, kamu udah terangsang lagi belon?” tanyaku.
“Bentar lagi Ben,” katanya mulai menggoyangkan pantatnya untuk mengimbangiku, dan kemudian dia menarik kepalaku dan memitaku untuk sambil menciumnya.
“Sambil bercumbu dong Ben!”
Tanpa disuruh dua kali aku langsung mncumbunya, dan aku betul-betul menikmati permainan lidahnya yang semakin mahir.
“Lus kamu udah punya pacar belom?” tanyaku.”Aku udah tapi baru abis putus,” katanya sambil mendesah.
“Ben pacar aku itu enggak tau loh soal benginian, cuma kamu loh yang beginian sama aku.”
“Ach yang bener?” tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan.
“Ach.. be.. ner.. kok Ben, a.. aa… ach.. achh,” katanya terputus-putus.
“Tahan aja, atau kamu mau udahan?” kataku menggoda.
“Jangan udahan dong, aku baru kamu bikin terangsang lagi, kan kagak enak kalau udahan, achh… aa… ahh… aku percepat yach Ben,” katanya.
Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya.
“Kamu udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya aku bakal keluar dech,” kataku menyadari bahwa sepermaku sudah mengumpul di ujung.
“Achh… ach… bentar lagi nih.”
“Tahan Ben!” katanya sambil mengeluarkan penisku dari vaginanya dan kemudian menggulumnya sambil tanganya mamainkan klitorisnya.
“Aku juga Ben, bantu aku cari klitorisku dong!” katanya menarik tanganku ke vaginanya.
Sambil penisku terus dihisapnya kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan…
“Achh… a… achh… achh… ahh…” desahku sambil menembakkan spermaku dalam mulutnya.
“Aku juga Ben…” katanya sambil menjepit tanganku dalam vaginanya.
“Ach… ah… aa.. ach…” desahnya.
“Aku tidur di sini yach, nanti bangunin aku jam lima sebelum ayah bagun,” katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di sampingku.
Tepat jam lima pagi aku bangun dan membangunkanya, kemudian ia bergegas ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, begitu juga dengan aku. Yang aneh siang ini tidak seperti biasanya Lusi tidak pulang bersamaku karena ia ada les privat, sedangkan di rumah cuma ada Mbak Riri, dan anehnya siang-siang begini Mbak Riri di rumah memakai kaos ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu.
“Siang Ben! baru pulang? Lusi mana?” tanyanya.
“Lusi lagi les, katanya bakal pulang sore,” kataku, “Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?”
“Aku pulang tadi malem jam tigaan,” katanya.
“Ben, tadi malam kamu teriak sendirian di kamar ada apa?”
Wah gawat sepertinya Mbak Riri dengar desahannya Lusi tadi malam.
“Ach tidak kok, cuma ngigo,” kataku sambil berlalu ke kamar.
“Ben!” panggilnya, “Temenin Mbak nonton VCD dong, Mbak males nich nonton sendirian,” katanya dari kamarnya.
“Bentar!” kataku sambil berjalan menuju kamarnya, “Ada film apa Mbak?” tanyaku sesampai di kamarnya.
“Liat aja, nanti juga tau,” katanya lagi.
“Mbak lagi nungguin seseorang yach?” tanyaku.
“Mbak, lagi nungguin kamu kok,” katanya datar, “Tuh liat filmnya udah mulai.”
“Loh inikan…?” kataku melihat film BF yang diputarnya dan tanpa meneruskan kata-kataku karena melihat ia mendekatiku. Kemudian ia mulai mencium bibirku.
“Mbak tau kok yang semalam,” katanya, “Kamu mau enggak ngelayanin aku, aku lebih pengalaman dech dari Lusi.”
Wah pucuk di cinta ulam tiba, yang satu pergi datang yang lain.
“Mbak, aku kan adik yang berbakti, masak nolak sich,” godaku sambil tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok vaginanya, sedangkan tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet payudaranya yang super besar.
“Kamu pinter dech, tapi sayang kamu nakal, pinter cari kesempatan,” katanya menghentikan ciumannya dan melepaskan tanganku dari dada dan vaginanya.
“Mbak mau ngapain, kan lagi asyik?” tanyaku.”Kamu kagak sabaran yach, Mbak buka baju dulu terus kau juga, biar asikkan?” katanya sambil membuka bajunya.
Aku juga tak mau ketinggalan, aku mulai membuka bajuku sampai pada akhirnya kami berdua telanjang bulat.
“Tubuh Mbak bagus banget,” kataku memperhatikan tubuhnya dari atas sampai ujung kaki, benar-benar tidak ada cacat, putih mulus dan sekal.
Ia langsung mencumbuku dan tangan kanannya memegang penisku, dan mengarahkan ke vaginanya sambil berdiri.
“Aku udah enggak tahan Ben,” katanya.
Kuhalangi penisku dengan tangan kananku lalu kumainkan vaginanya dengan tangan kiriku.
“Nanti dulu ach, beginikan lebih asik.”
“Ach… kamu nakal Ben! pantes si Lusi mau,” katanya mesra.baca juga foto bugil abg terbaru
“Ben…! Mbak…! lagi dimana kalian?” terdengar suara Lusi memanggil dari luar.
“Hari ini guru lesnya tidak masuk jadi aku dipulangin, kalian lagi dimana sich?” tanyanya sekali lagi.
“Masuk aja Lus, kita lagi pesta nich,” kata Mbak Riri.
“Mbak! Entar kalau Lusi tau gimana?” tanyaku.
“Ben jangan panggil Mbak, panggil aja Riri,” katanya dan ketika itu aku melihat Lusi di pintu kamar sedang membuka baju.
“Rir, aku ikut yach!” pinta Lusi sambil memainkan vaginanya.
“Ben kamu kuat nggak?” tanya Riri.
“Tenang aja aku kuat kok, lagian kasian tuch Lusi udah terangsang,” kataku.
“Lus cepet sinih emut ‘Beni Junior’,” ajakku.
Tanpa menolak Lusi langsung datang mengemut penisku.
“Mending kita tiduran, biar aku dapet vaginamu,” kataku pada Riri.
“Ayo dech!” katanya kemudian mengambil posisi.
Riri meletakkan vaginanya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap vagina Lusi yang sedang mengemut penisku.
“Lus, aku maenin vaginamu,” katanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Lusi ia langsung bermain di vaginanya.Permainan ini berlangsung lama sampai akhirnya Riri menegangkan pahanya, dan… “Ach… a… aach… aku keluar…” katanya sambil menyemprotkan cairan di vaginanya.
“Sekarang ganti Lusi yach,” kataku.
Kemudian aku bangun dan mengarahkan penisku ke vaginanya dan masuk perlahan-lahan.
“Ach… aach…” desah Lusi.
“Kamu curang, Lusi kamu masukin, kok aku tidak?” katanya.
“Abis kamu keluar duluan, tapi tenang aja, nanti abis Lusi keluar kamu aku masukin, yang penting kamu merangsang dirimu sendiri,” kataku.
“Yang cepet dong goyangnya!” keluh Lusi.
Kupercepat goyanganku, dan dia mengimbanginya juga.
“Kak, ach… entar lagi gant… a… ach.. gantian yach, aku.. mau keluar ach… aa… a… ach…!” desahnya, kemudian lemas dan tertidur tak berdaya.
“Ayo Ben tunggu apa lagi!” kata Riri sambil mengangkang mampersilakan penisku untuk mencoblosnya.
“Aku udah terangsang lagi.”
Tanpa menunggu lama aku langsung mencoblosnya dan mencumbunya.
“Gimana enak penisku ini?” tanyaku.
“Penis kamu kepanjangan,” katanya, “tapi enak!”.
“Kayaknya kau nggak lama lagi dech,” kataku.
“Sama, aku juga enggak lama lagi,” katanya, “Kita keluarin sama-sama yach!” terangnya.
“Di luar apa di dalem?” tanyaku lagi.
“Ach… a… aach… di.. dalem… aja…” katanya tidak jelas karena sambil mendesah.
“Maksudku, ah.. ach.. di dalem aja… aah… ach… bentar lagi…”
“Aku… keluar… ach… achh… ahh…” desahku sambil menembakkan spermaku.
“Ach… aach… aku… ach.. juga…” katanya sambil menegang dan aku merasakan cairan membasahi penisku dalam vaginanya.
Akhirnya kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada saat bersamaan.
“Ben aku mandi dulu yach, udah sore nich.”
“Aku juga ach,” kataku.
“Ben, Lus, lain kali lagi yach,” pinta Riri.
“Itu bisa diatur, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Ben!” kata Lusi.
“Kapan aja kalian mau aku siap,” kataku.
“Kalau gitu kalian jangan mandi dulu, kita main lagi yuk!” kata Riri mulai memegang penisku.
Akhirnya kami main lagi sampai malam dan kebetulan ayah dan ibu telepon dan mengatakan bahwa mereka pulangnya besok pagi, jadi kami lebih bebas bermain, lagi dan lagi. Kemudian hari selanjutya kami sering bermain saat situasi seperti ini, kadang tengah malam hanya dengan Riri atau hanya Lusi. Oh bapak tiri, ternyata selain harta banyak, kamu juga punya dua anak yang siap menemaniku kapan saja, ohh nikmatnya hidup ini.

Cerita Sex | Cerita Dewasa | Cerita Hot | Cerita Panas | Terbaru 2016